Sejenak ku termenung,
Kuingin rasakan tamparan alam dibatas dunia
Hm, senyum simpulku menahan gundah kelana
Memecah kebisuan yang lama tercenung
Ku dengungkan bait yang tak kunjung merenung
Melanglang meratap tak bergerak
Oh, kaum setan…
Kau ajak diriku kembali menari diatas permukaan air
Percuma, tidak kali ini, aku menolakmu
Aku tak mau terjebak diantara dua dunia
Ruang dimensi bangsamu bukanlah bagian diriku
Sudah waktunya kita berpisah
Biarlah kita berdiri didunia kita masing-masing
Biarkan kunikmati keindahan ini tanpa kau ganggu
Sekali ini saja, ku ingin duduk lama didermaga!
Wahai, koloni negeriku
Katakan sejujurnya padaku
Apakah diriku sesungguhnya harimau itu?
Apakah kenaifanku bagian angkara barbar itu?
Seharusnya, kami mengutuk diri sendiri
Lalu,
Mengapa kau bersedia menunggu tubuhku?
Mengapa kau bersedia menjadi pemuas nafsuku?
Mengapa kau sukarela melayaniku?
Mengapa kau sukarela menjadi wadah sampahku?
Tlah kau utarakan,
Kau memintaku memiliki tubuhmu
Meski kau tahu tidak jiwa, hati dan pikiranku
Kau suguhi aku keperawananmu
Meski kau tahu dirimulah yang akan menanggung malu
Oh, akulah sahabat setan
Kugunakan otakku dengan nafsu birahiku
Kulihat kejauhan dari dekatnya liangmu
Ku tafsirkan cintamu berupa penundukkan
Ku arungi tubuh lain untuk ku korbankan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar